Tampilkan postingan dengan label A dream of mind A dream of mine. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label A dream of mind A dream of mine. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Juli 2010

Human Capital Flight : Terbangnya Insan-Insan Brilian ke Negeri Seberang

Fenomena terbangnya manusia-manusia cerdas nan brilian dari sebuah negeri (biasanya dari negeri berkembang) ke negeri lain yang ribuan kilometer jaraknya (rata-rata negeri maju) acap disebut sebagai human capital flight. Modal insani (human capital) yang harganya amat mahal dan berperan penting bagi kemajuan sebuah bangsa, mendadak lenyap tak berbekas. Mereka terbang jauh melintas benua.

Dalam skala yang masif, terbangnya sumber daya manusia brilian itu disebut sebagai brain drain. Atau hilangnya kumpulan otak cerdas yang ramai-ramai hijrah ke negeri lain yang lebih menjanjikan : ke negeri seberang tempat dimana land of hope masih bisa diejawantahkan.

Indonesia bukan satu-satunya negeri yang mengalami fenomena brain drain. Dua negeri lain juga mengalami hal ini, dengan skala yang lebih fantastis : India dan China.

Yang paling mencengangkan adalah India. Sejak tahun 50-an hingga hari ini, jutaan manusia cerdas dari India hijrah ke Amerika. Namun dampaknya juga mengejutkan : profesor kelahiran India selalu menjadi figur dominan pada hampir semua perguruan tinggi top di Amerika. Demikian juga, nama-nama berbau India selalu mendominasi pos penting pada hampir semua perusahaan teknologi papan atas di Amerika.

Karena itu, kalaulah ada kebijakan semua anak keturunan India harus keluar dari Amerika, maka hampir pasti ekonomi negeri adidaya itu seketika limbung. Sebab brain drain dari India itu telah berperan amat penting bagi kemajuan tekenologi dan ekonomi negeri besar itu.

Dalam skala yang jauh lebih kecil, Indonesia juga punya banyak kasus brain drain. Kita misalnya, melihat bagaimana anak kelahiran Medan menjadi profesor top di Amerika. Atau ada juga anak negeri ini yang menjadi dewa dalam salah satu satu perguruan top di Jepang. Banyak juga anak-anak cemerlang negeri ini yang berkiprah di Eropa, dan menduduki pos penting di sejumlah organisasi.

Mengapa terjadi brain drain? Jawabannya sederhana : infrastruktur di dalam negeri yang belum tertata dengan elok. Banyak dari manusia brilian – yang rata-rata berprofesi sebagai saintis/peneliti itu, menemukan fasilitas riset disini yang belum optimal mendukung kiprah mereka.

Alasan lain tentu saja : penghasilan. Bekerja sebagai peneliti di negeri seberang menjanjikan penghasilan yang sangat memadai. Yang tak kalah penting : mereka menemukan ruang untuk terus mengembangkan potensi keilmuannya.

Lalu apa solusinya? Sederhana juga : pihak pemerintah harus segera membenahi infrstruktur riset disini; dan juga secara agresif memberikan reward yang atraktif bagi para peneliti yang telah teruji dalam kancah dunia. Pemerintah China – lantaran kemajuan ekonominya – telah secara agresif melakukan kebijakan ini.

Mereka menjanjikan dana riset yang hampir tak terbatas, gaji yang besar dan fasilitas riset kelas dunia, guna menarik para peneliti cemerlang mereka yang malang melintang di jagat Amerika dan Eropa. Hasilnya menarik : terjadilah fenomena reverse brain drain. Maksudnya, ribuan insan brilian China yang telah berhasil di negeri seberang itu ramai-ramai pulang kampung untuk membangun tanah airnya. Reverse brain drain adalah fenomena indah yang layak kita impikan.

Solusi lain adalah ini : mengharapkan agar ada diantara periset itu yang memiliki jiwa advonturir (semangat petualangan) untuk membangun lembaga riset unggul di dalam negeri. Artinya, periset itu tetap berjibaku membangun kegiatan riset kelas dunia di negerinya sendiri, meski terus disergap beragam keterbatasan.

Sangkot Marzuki, profesor biokimia hebat kita itu, adalah salah satu contohnya. Meski telah menduduki posisi prestisius di University of Melbourne, ia memilih pulang dan membangun Lembaga Biomolekuler Eijkman, yang berlokasi di Salemba, Jakarta. Di tengah segala keterbatasan, ia tidak menyerah. Hasilnya, lembaga itu kini telah diakui dunia. Terry Mart, anak negeri ini yang jadi dosen Fisika UI juga melakukan hal serupa. Ia tetap memilih berkiprah di UI sambil terus menulis riset kelas dunia di jurnal-jurnal internasional.

Kita mungkin membutuhkan sosok periset dengan spirit semacam itu guna menghindari fenomena human capital flight. Bagaimanapun kejadian brain drain dan human capital flight acapkali membuat negeri asal mereka menjadi kian kehilangan.


Pejuang di Negeri Seberang

Kian banyak profesional kita yang berkarier cemerlang di berbagai negara. Selain mengerek citra positif Indonesia, mereka juga berjanji kelak pulang untuk mengabdikan ilmu dan pengalamannya.

Tanah airku tidak kulupakan

kan terkenang selama hidupku

Biarpun saya pergi jauh

tidak kan hilang dari kalbu

Tanahku yang kucintai

engkau kuhargai

(Ibu Sud, Tanah Airku)

Sungguh bangga melihat orang-orang Indonesia yang berkarier cemerlang di mancanegara, terutama di negara-negara maju. Baik sebagai profesional di berbagai perusahaan multinasional, peneliti atau pengajar di universitas ternama, maupun sebagai seniman kelas dunia. Di daratan Eropa, sekadar contoh, kita mengirim Siddik Badruddin sebagai Direktur Country Risk Citibank Jerman. Ananda Sukarlan kelahiran Jakarta tahun 1968 yang kini menetap di Spanyol adalah pianis yang sangat dihormati dan menjadi langganan gedung konser paling bergengsi di Eropa seperti Concertgebouw Amsterdam, Philharmonie Berlin, Auditorio Nacional di Madrid, serta Rachmaninoff Hall di Moskow dan Queen Hall di Edinburg.

Di benua Amerika, Indonesia menitipkan Nelson Tanu di Lehigh University, Pennsylvania, AS. Lelaki kelahiran Medan 20 Oktober 1977 ini adalah pakar teknologi nano yang merupakan kunci perkembangan sains dan rekayasa masa depan. Temuan-temuannya memungkinkan banyak hal menjadi lebih murah. Sinar laser yang biasanya butuh listrik 100 watt, misalnya, di tangan Nelson hanya butuh 1,5 watt. Wajarlah, sejak Mei 2009, ketika usianya belum genap 32 tahun, ia diangkat sebagai profesor. Lebih hebat lagi, sebelumnya, saat berusia 25 tahun, Nelson telah memecahkan rekor sebagai profesor termuda sepanjang sejarah Pantai Timur di Amerika. Rekor sebelumnya dipegang Linus Pauling, penerima Nobel Kimia 1954 yang menjadi asisten profesor pada usia 26 tahun. Orang sejenius Nelson pastilah bakal disambut hangat jika ingin menjadi warga negara AS. Namun, hal itu tak pernah terlintas di pikirannya. Ia justru punya ambisi suatu saat balik ke Indonesia dan membangun universitas di Indonesia menjadi universitas papan atas di Asia.

Itu baru sedikit contoh. Anda pasti lebih takjub lagi saat membuka halaman demi halaman Sajuta SWA setelah ini: Indonesia diam-diam mampu mengekspor banyak orang berbobot ke mancanegara. Bukan sekadar tenaga kerja kasar seperti yang selama ini menjadi sasaran empuk media massa.

Selama satu-dua dasawarsa terakhir, pergerakan orang-orang terbaik dari satu negara ke negara lain memang semakin kencang. Ini tak lepas dari pesatnya perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, serta kian terbukanya negara-negara di dunia terhadap bangsa lain. Cina yang dulu sangat tertutup, contoh ekstremnya, belakangan sangat welcome terhadap orang-orang pintar sejauh mereka mampu memberi nilai tambah atau mendongkrak produktivitas perekonomian negeri itu.

Fenomena hijrahnya orang-orang terbaik untuk berkarier di negara lain yang mampu memberikan apresiasi dan gaji yang lebih baik, beberapa waktu lalu, sempat menjadi polemik ramai. Umumnya bernada miring. Muncullah, kemudian, istilah brain drain untuk menunjukkan betapa orang-orang pilihan itu tersedot keluar karena suatu negara tak mampu menahan tarikan kuat dari luar. Bahkan, ada yang menuding mereka sebagai orang yang egois, cari enak sendiri, tidak nasionalis, dan cap lain yang tak sedap didengar.

Semua tudingan negatif itu tampaknya kurang berdasar. Setidaknya, dari liputan SWA kali ini, semua orang hebat dari Indonesia yang kini berkarya di luar negeri dengan tegas mengatakan, suatu saat mereka ingin balik ke Tanah Air untuk mengabdikan ilmu dan pengalaman yang bertahun-tahun mereka timba di mancanegara, demi kemajuan Indonesia. Mereka tak setuju jika proses hidup yang mereka jalani sekarang disebut brain drain. Mereka lebih sreg disebut brain circulation. Artinya, suatu saat brain itu pasti balik lagi dengan kualitas yang jauh lebih bagus karena sudah teruji di kancah persaingan global.

Sebetulnya, tak usahlah menunggu sampai mereka kembali, sekarang pun mereka telah mengabdi kepada Tanah Air. Dengan kian tersebarnya orang terbaik kita di berbagai negara, secara tak langsung mereka menjadi duta atau brand atau apa pun namanya yang mampu mengerek citra positif Indonesia di mata negara dan bangsa lain. Ini investasi yang tak ternilai harganya bagi anak-cucu kita.

Soal nasionalisme? Boleh jadi, mereka tak kalah nasionalis dibanding orang-orang yang selama ini berkutat di dalam negeri. Cobalah search di Google. Di sana akan Anda temukan, lagu yang paling mereka gemari ketika kumpul-kumpul adalah Tanah Airku karya Ibu Sud. Reaksi mereka ketika menyanyikan atau mendengarkan lagu ini macam-macam. Ada yang tertunduk haru, merinding, bahkan tak sedikit yang menitikkan air mata. Ya… Biarpun saya pergi jauh, tidak kan hilang dari kalbu.

Saya percaya suatu hari nanti, fenomena reverse brain drain juga akan hinggap di negeri ini. Itulah momen dimana ribuan anak cemerlang yang telah berkiprah di negeri seberang akan berbondong-bondong pulang, dan membangun ibu pertiwi.


I Still Call Australia Home

Tanggal 26 Januari adalah Australia Day, yang dirayakan untuk memperingati hari berlabuhnya rombongan pertama para tahanan asal Inggris yang dibuang di Sydney tahun 1788. Rombongan ini dipimpin oleh Kapten Arthur Phillip, yang kelak akan menjadi gubernur New South Wales yang pertama.

Australia Day ini dirayakan sama meriahnya dengan 17 Agustus di Indonesia, atau 4 Juli di Amerika. Tradisi perayaan Australia Day di seluruh Australia dimulai sejak tahun 1935. Mulai tahun 1994, hari ini (atau hari sebelum atau sesudahnya jika kebetulan tanggal ini jatuh di akhir pekan) dijadikan hari libur nasional.


Salah satu lagu yang kerap dinyanyikan di Australia Day adalah I still call Australia home karya Peter Allen. Lagu ini juga pernah digunakan iklan Qantas.

I've been to cities that never close down
From New York to Rio and old London town
But no matter how far
Or how wide I roam
I still call Australia home.

I'm always travelin'
And I love bein' free
So I keep leavin' the sun and the sea
But my heart lies waiting over the foam
I still call Australia home.

All the sons and daughters spinning 'round the world
Away from their families and friends
Ah, but as the world gets older and colder
It's good to know where your journey ends.

And someday we'll all be together once more
When all the ships come back to the shore
Then I realize something I've always known
I still call Australia home.

No matter how far
Or how wide I roam
I still call Australia home

Setelah menonton Fireworks di Lake Burley Griffin, Canberra pada Australia Day, banyak pertanyaan yang muncul di kepala. Salah satunya adalah, apa yang membuat orang Australia bangga betul menjadi Australia? Mengapa mereka tidak protes ketika jutaan dollar dihabiskan dengan dibakar di firework?
Mbuh, Australia aneh walau menyenangkan


Rabu, 21 Juli 2010

MODERNISATOR MUDA INDONESIA GENERASI OPTIMIS BUKAN GENERASI UTOPIS

Modernisator muda adalah keharusan yang sangat mendesak. Harus segera lahir-pemuda-pemuda yang tak lagi hanya mencemaskan dirinya sendiri, tetapi cemas dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Kecemasan yang disolusi dengan pikiran positif tentu saja, bahwa transformasi adalah agenda besar yang menjadi pekerjaan bagi generasi tumpuan pertiwi ini, yang diharapkan mampu menjadi iron stock, social control, moral force dan agent of change.
Sebagaimana dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ‘adaptif’ merupakan suatu kata sifat yang bermakna leksikal ‘mudah menyesuaikan (diri) dengan keadaan’. Sedangkan, ‘progresif’ masih berupa kata sifat yang bermakna leksikal ‘berhaluan ke arah kemajuan’. Konsep manusia yang adaptif dan progresif ini berarti manusia yang mampu menyesuaikan diri dengan keadaan dan berubah ke arah yang lebih baik.
Think Globally, Act Locally, Change Personally. Adalah keyword dalam menjawab tantangan untuk menjadi generasi Generasi yang Paling Adaptif dan Progresif di Abad 21. Tantangan global abad 21 harus disolusi dengan wawasan dan kemampuan yang senantiasa ter-update sehingga bangsa ini dapat memanfaatkan globalisasi sebagai peluang. Untuk itu, generasi ini harus menguasai imu pengetahuan dan teknologi guna meningkatkan know to how nya terhadap isu-isu yang berkembang baik dalam tataran nasional maupun tataran global.
Bervisi global juga diartikan sebagai nasionalisme progresif. Generasi yang adaptif tentu taak akan mempersoalkan lagi identitas kesukuannya, karena visi globalnya akan membawa pada paradigma perlunya ketahanan nasional yang tangguh, bukan hanya ketahanan teritori tetapi yang jauh lebih penting adalah ketahanan sosial budaya. Generasi dinamis adalah generasi pluralis. Tak aka nada lagi peran di kursi parlemen. Karena generasi ini mengerti, mereka sedag berjuang bersama untuk satu tujuan Indonesia raya meskipun dalam perbedaan pandangan mengenai cara pencapaiannya. Nasionalisme positif akan membawa generasi muda untuk mejadi generasi yang haus prestasi. Generasi yang senantiasa ingin mengibarkan panji-panji kemenangan merah putih sejajar dengan bangsa lain. Pengabdian sesungguhnya yang diminta oleh abad 21, prestasi anak negeri dan kumandang lagu kebangsaan Indonesia raya di kampiun Internasional.
Act Locally merupakan implementasi dari without skipping out the local wisdom, tanpa melupakan kearifan lokal. Bukan dengan menghujat bangsa lain yang memplagiasi kekayaan budaya kita, namun dengan menjaga eksistensinya dengan ikut memajukan dan melestarikannya. Nilai-nilai etika ketimuran yang tumbuh dalam pribadi moderat adalah modal untuk menunjukkan ke-Indonesiaan generasi pemenang abad 21 ini. Mimi Rasinah, Bagong Kussudiarjo, dan Retno Maruti kini telah rapuh di usia senja, tetapi tidak dengan semangatnya. Akan tumbuh anak-anak muda yang akan meng-internasionalisasi Indonesia dengan meneruskan karya-karya maestro pendahulunya. Generasi ini yang akan mewarisi sang maestro, untuk kembali membuat dunia berdecak akan kekayaan khazanah budaya angsa kita.
Generasi adaptif dan dinamis abad 21 tidak akan menjadi korban hedonism yang berakibat pada cultural shock. Biarlah media internasional, ataupun artis sekaliber Hollywood mencibir kasus video amoral yang menjadi kesalahan anak negeri ini. Ini akan menjadi memori dunia yang terakhir akan sisi gelap generasi muda Indonesia, karena generasi ini membawa ingatan dunia pada prestasi-prestasi masa depan bangsa ini. Publik internasional akan dipalingkan pada kegagahan atlit serta pelajar berprestasi Indonesia yang gagah berkalung medali emas, persembahan bagi Indonesia.
Terakhir adalah Change Personally. Inilah yang menjadi keyword dari seorang modernisator, yakni perubahan. Bahwa memulai menjadi agent of change adalah memulai untuk selalu berusaha berkontribusi bagi persada Indonesia.. Bahwa modernisator adalah generasi yang benar-benar rela meyediakan dirinya untuk menjadi anak muda berprestasi yang akan berkontribusi besar bagi negeri ini dengan penuh dedikasi. Adalah generasi yang mengerti bahwa negeri ini merdeka dengan tumpahan darah, dan generasi yang mengerti bahwa merekalah yang memegang tanggung jawab besar akan harga pengorbanan pahlawan tersebut. Dengan integritas dan dedikasi, modernisator akan membawa Indonesia abad 21 menjadi Indonesia bebas korupsi. Sekali lagi, nasionalisme progresif adalah kekuatan, mental spiritual positif adalah pijakan, dan Transformasi Indonesia adalah cita-cita.

POSITIVE ATTITUDE, SIKAP KRITIS, KREATIF DAN INOVATIF MODAL DASAR MAHASISWA SEBAGAI SEORANG PROBLEM SOLVER.

Mengenal Peace Generation;

Memahami Damainya MAHASISWA Pluralis menyikapi Multikulturalisme

Mengapa Harus Lahir Pemuda Pluralis di Negeri Ini?

Jika kita memiliki pemimpin yang menghargai keberagaman (multikulturalismeI) maka kita dengan sendirinya akan beruntung. Tetapi jika kita mengutamakan keberagaman, maka mau tidak mau kita menyimpang dari semboyan Bhineka Tunggal Ika (K. H. Abdurrahman Wahid)

Kembali Gus Dur mengingatkan, memang harus generasi muda yang memfilsafati keberagaman dengan arif. Mengapa harus generasi muda, karena merekalah yang nantinya akan menjadi pemimpin bangsa ini. Gus Dur bercita-cita agar bangsa ini nantinya beruntung dengan memiliki pemimpin yang tidak mendahulukan kebhinekaan sebagai landasan, tetapi menjadikan ke-tunggal ika-an sebagai nafas perjuangan dan cita-cita pembangunan. Karenanya,harus tumbuh pemuda-pemuda pelopor yang menghargai keberagaman. Pemuda-pemuda harapan bapak bangsa itu harus segera lahir, tidak esok, tidak sepuluh tahun lagi, tetapi sekarang, hari ini juga. Dan yang pasti, pemimpin pluralis akan berjuang untuk keseluruhan bangsa Indonesia, dan bukan atas nama suku, agama, ataupun ras. Karena pemimpin pluralis mencintai bangsanya dengan berbagai kekayaan keragaman.

Sedemikian urgennya kesadaran multikulur sehingga pendidikan multikultural menjadi komitmen global sejalan dengan rekomendasi UNESCO, Oktober 1994 di Jenewa. Rekomendasi UNESCO tersebut memuat empat seruan: (1) pendidikan seyogyanya mengembangkan kesadaran untuk memahami dan menerima sistem nilai dalam kebhinnekaan pribadi, jenis kelamin, ras, etnik, dan kultur; (2) pendidikan seyogyanya mendorong konvergensi gagasan yang memperkokoh perdamaian, persaudaraan dan solidaritas dalam masyarakat; (3) pendidikan seyogyanya membangun kesadaran untuk menyelesaikan konflik secara damai; dan (4) pendidikan seyogyanya meningkatkan pengembangan kualitas toleransi dan kemauan untuk berbagi secara mendalam.[1] Pendidikan multikultural memberikan kebermanfaatan untuk membangun kohesifitas, soliditas dan intimitas antaretnik, ras, agama, dan budaya telah memberikan dorongan bagi generasi muda dalam menanamkan kesadaran menghargai orang, budaya, dan agama, lain.

Dalam sebuah kelakarnya Gus Dur mengingatkan, jika Indonesia ingin damai, maka harus ada pemahaman yang secara ikhlas dan cerdas menghargai perbedaan sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa. Kesadaran multikultur harus dibangun sedini mungkin. Cita-cita Indonesia damai 2020 sangat bergantung pada penanaman berbangsa secara komperehensif. [2]

Mengenal Peace Generation; Mengenal Pahlawan Perdamaian Belia Indonesia

Peace Generation merupakan sebuah komunitas yang bergerak di bidang resolusi konflik dan perdamaian di kalangan anak muda (youth). Lahir di Yogyakarta pada 10 Juni 2002, Peace Generation terbentuk berdasarkan kesepakatan antara peserta dan panitia Youth Camp for Democracy and Peace (YCDP) yang diselenggarakan oleh Komunitas Cinta Damai Universitas Gadjah Mada dengan Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) UGM pada 27 Mei-1 Juni 2002, di Pondok Tingal, Magelang.[3]

Melalui kegiatan Peace Camp yang diadakan secara rutin, para alumni program Peace Camp akan secara langsung menjadi bagian dari Peace Generation. Setiap tahun mereka melakukan kegiatan yang dikemas dalam bentuk Peace Camp dalam rangka membicarakan perdamaian dan segala macam aksiomanya. Hingga kini, program Peace Camp sendiri telah diadakan sebanyak enam kali; Youth Camp for Democracy and Peace (YCDP), 27 Mei-1 Juni 2002, di Pondok Tingal, Magelang, Student Camp for Peace yang diselenggarakan bagi pelajar SMU se-DIY di Wanagama, 7-11 Mei 2003, Peace in Our Neighbourhood bagi mahasiswa tahun pertama dan kedua, 23-27 Januari 2005, di Wanagama, dan Feeling Peace in Our School bagi pelajar SMU se-DIY dan Jawa Tengah, 13-17 Januari 2007 di Omah Jawi, Kaliurang Jogja Peace Amizing Race (JPAR) dan terakhir adalah Peace Adventura yang dihelat pada akhir tahun 2009.[4] Visi dari Peace Generation adaah mewujudkan masyarakat damai, sedangkan misi dari Peace generation adalah menjadikan Peace Generation sebagai wahana eksperimentasi keberbedaan dan menawarkan alternatif penyelesaian konflik nirkekerasan pada masyarakat. Adapun nilai-nilai yang menjadi dasar pemikiran dan aktivitas Peace Generation[5]:

  1. Youth, dimaknai sebagai spirit personil Peace Generation yang aktif, kreatif, dan dinamis sesuai dengan jiwa muda.
  2. Pluralism, bahwa pada dasarnya manusia diciptakan dengan latar belakang berbeda-beda, sifat, kondisi fisik dan psikis yang berbeda. Perbedaan ini menandakan bahwa tiap individu mempunyai potensi unik yang berbeda pula. Nilai ini berintisari bahwa perbedaan tidak sekedar diketahui (to be revealed), tetapi perlu ada penghargaan (respect), dan pemahaman (understanding) sehingga perbedaan menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.
  3. Non Violence, bahwa dalam setiap aktivitas maupun respon terhadap konflik yang terjadi di masyarakat, Peace Generation berusaha untuk menggunakan alternatif-alternatif penyelesaian masalah dengan cara nir-kekerasan.
  4. Participation, berlandaskan pada kesadaran bahwa Peace Generation adalah bagian dari masyarakat sehingga berbagai aktivitas yang dilakukannya merupakan wujud partisipasi dan apresiasi kepada lingkungannya. Participation juga menjadi acuan bahwa Peace Generation merupakan wahana partisipasi dan aktualisasi anggota dalam rangka memberikan kontribusi positif kepada masyarakat.

C. Catatan Damai Peace Generation dalam Menyusuri Jalan Panjang Menemukan Kesadaran Multikulturalisme

”Beri aku 10 pemuda, akan aku guncangkan dunia” (Presiden Soekarno).

Setiap tanggal 21 September, sejak Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 2001 melalui resolusi 55/282, ditetapkanlah Hari Perdamaian Internasional. Ini adalah salah satu upaya demi menuai kedamaian hidup bersama di muka bumi. Jalan menuju perdamaian pun ramai diserukan oleh semua orang kahir-akhir ini, lebih-lebih oleh badan internasional sekelas PBB. Perdamaian seperti suatu idealita kehidupan yang dambakan bersama. Namun, di tengah gejolak konflik perang yang berkepanjangan dan ancaman inkonsistensi terhadap sistem dunia khususnya negara-negara adikuasa, perdamaian seperti sebuah utopia. Perdamaian seolah hanya menjadi proyek sarat kepentingan di pentas global.[6]

Saat ini waktunya kita mulai mengurai sebuah perspektif baru tentang perdamaian yang sedikit terlewatkan oleh institusi-institusi global di atas. Dari UGM melalui Peace Generation, nilai-nilai perdamaian dihadirkan dalam setiap kesempatan kapan dan dimana pun. Karena perdamaian ala peace generation, adalah suatu yang dekat, familiar, dan siapa pun dapat mewujudkannya. Perdamaian bukan komuoditas isu yang harus dilegokan dalam pentas lelang internasional. Namun, nilai perdamaian dapat dimulai dari diri sendiri, berlanjut kepada lingkungan keluarga, lingkaran sosial masyarakat, nasional, dan hingga dirasakan ke pentas internasional.

Peace generation bukan semata komunitas dengan rutinitas pertemuan dengan tanpa memberi kontribusi positif kepada masyarakat. Peace Generation adalah wujud nyata dari kesadaran sekolompok generasi muda bahwa tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini sebentar lagi akan mereka genggam, dan sekaranglah saatnya untuk belajar menjadi pahlawan untuk bangsanya, belajar untuk mencintai rakyat dan masyarakatnya dengan cara-cara damai. Mereka menyusun agenda-agenda pembelajaran tersebut dalam sebuah agenda damai, yang akan menuntun mereka menjadi pahlawan yang memimpin dengan cara-cara damai, dan menjadi pembawa damai untuk mayarakatnya. Agenda-agenda ini merupakan pembuktian, bahwa mereka adalah generasi muda yang menjadi bagian dari solusi untuk bangsa ini, bukan bagian dari masalah. Merekalah harapan perdamaian masa depan Indonesia, yang belajar untuk menjadi “silent hero” dan bukan “pahlawan” yang haus publikasi.

Prestasi komunitas yang berdiri sejak 10 Juni 2002 ini tergolong cemerlang baik dalam negeri khususnya di lokal Jogja dan sesekali terlibat di berbagai kegiatan pemuda perdamaian di kancah internasional. Komunitas ini seperti sebuah rumah bagi semua generasi muda khususnya mahasiswa UGM dengan latar belakang berbeda baik agama, ras, etnis dan suku. Peace Generation telah melakukan penyebaran virus perdamaian khususnya kepada generasi muda dimulai dari Gadjah Mada, dimulai dari Jogja untuk Indonesia. Terbukti di daerah-daerah rawan konflik seperti Aceh dan Ambon komunitas ini telah menambatkan jejaringnya.

PION adalah bukti ketanggapan mahasiswa-mahasiswa ini dengan fenomena maraknya tawuran pelajar yang terjai di Yogyakarta kala itu. Jatuhnya beberapa korban jiwa membuat mereka tak hanya merasa cukup menitipkan masalah ini pada solusi represif institusi kepolisian. Mereka berbuat, dan PION adalah dedikasi mereka dalam menyelamatkan pelajar Yogyakarta dari ancaman perpecahan. Hal yang ssama juga mereka lakukan ketika terjadi perang SARA antara beberapa asrama mahasiswa yang ada di Yogyakarta. Dan yang menjadi poin utama bahwa ketika mahasiswa-mahasiswa ini belum mampu mencapai rnah publik, apa yang mereka lakukan dengan bahasa ke-muda-an mereka justru menjadi pemecahan masalah yangtak hanya efektif, namun juga damai dan tidak menimbulkan permusuhan sebagai bom waktu masalah yang baru.

Satu yang perlu dicatat adalah kegiatan non-agenda yang mereka lakukan selama gempa Yogyakarta 2006 berlagsung. Mereka tidur bersama ara pengungsi di tenda-tenda, melakukan program recovery dengan focus pemulihan psikis anak-anak korban gempa. Dua bulan mereka membagi diri untuk berada di Piyungan, Bantul, dan Klaten untuk menjadi sahabat bagi anak-anak yang tak hanya kehilangan rumahnya, tetapi juga orangtuanya, sahabatnya, atau mungkin gurunya. Dua bulan mereka datang sebagai konselor bagi anak-anak yang bahkan problematika paska gempa mereka tidak terbesit oleh para pembuat kebijakan.

Mereka Adalah Pemuda yang Memfilsafati Keberagaman

When I born, I Black,

When I grow up, I Black,

When I go in Sun, I Black,

When I scared, I Black,

When I sick, I Black

And when I die, I still Black…

And you White fella,

When you born, you Pink,

When you grow up, you White,

When you go in sun, you Red,

When you cold, you Blue,

When you scared, you Yellow,

When you sick, you Green

And when you die, you Gray…

And you calling me Colored??[7]

Puisi ini masuk menjadi nominasi puisi terbaik 2005 untuk festival anti rasisme ke 11 yang berlangsung di Yunani. Puisi ini ditulis oleh seorang anak Afrika yang bernama Aly El Shaly. Sebuah kritik pedas terhadap rasisme. Sebuah keragaman atas keberagaman. Dalam konteks keindonesiaan, puisi ini dapat dilihat sebagai gambaran fenomena gesekan bahkan konflik lintas suku, agama, dan antar aliran kepercayaan (SARA) di Indonesia dekade ini.

Pembicaraan “kedirian” yang kemudian mendefinisikan eksistensi antara we and the others telah embuat rasa kemanusiaan kemudian dilukai. Eksistensi diri dan cara pandang dalam melihat “yang lain” ini membawa konsekuensi sosial bagaimana sang subyek menempatkan dan memperlakukan “yang lain”. Prinsip, pandangan hidup, keyakinan, identitas, agama yang menjadi sumber identitas diri, nyatanya cenderung melahirkan ekspresi yang menganggap rendah terhadap the others, bahkan tak jarang meniadakan the others. Karena itu, dalam konteks keragaman hidup, mengakui perbedaan saja tidak cukup. Lebih dari itu, mengakui dan memberi ruang hidup bagi eksistensi ”yang lain” serta serius membangun koeksistensi yang dibangun atas dasar trust dan semangat kebersamaan seharusnya menjadi artikulasi diri dalam menyenandungkan irama kehidupan bersama entitas lain.[8]

Dan inilah yang dilakukan oleh anak-anak muda ini dalam memfilsafati keberagaman. Mereka mengenal keberagaman untuk kemudian mencintai kemanusiaan secara lebih kompleks. Mereka tidak mengenal “others” karena bagi mereka semuanya adalah kita, adalah Indonesia. Mereka adalah generasi kini yang sadar, semangat keberagaman dalam Sumpah Pemuda yang dahulu didengungkan di eranya, kini harus mereka warisi.

Peace Generation, Manifesto Agent of Change Universitas Gadjah Mada

Kau membuatku mengerti hidup ini

Kita terlahir bagai selembar kertas putih

Tinggal dilukis dengan tinta pesan damai

Dan terwujud harmoni

Sepenggal lagu milik Padi tersebut membawa saya pada kesyukuran besar. Bahwa di persada ini telah lahir anak-anak muda yang akan mengajari Indonesia untuk mengerti bahwa harmoni akan terwujud dengan tinta pesan damai. Dan harapan Gus Dur akan lahirnya pemimpin-pemimpin yang mencintai keragaman Indonesia kini bukanlah harapan semu. Indonesia telah memilikinya, mereka, anak-anak muda yang berbuat dengan karya nyata, yang benar-benar mempelajari indahnya keberagaman dengan benar-benar menjadi bagian dari keberagaman tersebut, seperti yel al selalu mereka nyanyikan: Viva La Diferentia. Dari Gadjah Mada, melalui Peace generation, kini saatnya meretaas optimitas akan pemimpin masa depan yang mempunyai kecakapan dan kesiapan untuk menunaikan pertanggunganjawaban terhadap pembangunan, pemeliharaan dan perkembangan kebudayaan dan hidup kemasyarakatan.

Mereka adala mahasiswa-mahasiswa yang sadar akan amanat konstitusi. Bahwa anggaran negara sebesar 20 persen yang dibiayai oleh rakyat melalui pajak untuk kelangsungan pendidikan mereka, memiliki konsekuensi tanggung jawab akan baktimereka untuk negeri. Terbukti, mereka adalah generasi muda yang berjiwa muda, penuh kebanggan, percaya diri dan berprestasi. Mereka adalah mahasiswa yang bangga akan keluhuran budaya Indonesia, memelihara keragaman Indonesia, dan yakin bahwa kejayaan Indonesia yang lebih besar masih menanti di masa depan. Mahasiswa-mahasiswa ini berorientasi pada peluang bukan rasa cemas, dipacu dengan energi positif bukan energi negatif, dengan wawasan yang terus menyongsong hari esok, dan dengan terus menonjolkan sikap moderat dan pluralisme sebagai kunci sukses. Jika UGM pernah mencatatkan nama Arko Jatmiko peneliti bonggol pisang, Leo Begawan robot Semar, Syammahfuz peneliti keramik kotoran sapi yang digelari Young Inovator Scientist oleh PBB, ataupun Annisa Gita Srikandini peraih beasiswa fullbright, merekalah mahasiswa-mahasiswa yang bekerja keras untuk kelangsungan Peace Generation. Mereka mahasiswa berprestasi, namun bukan mahasiswa berprestasi untuk dirinya sendiri. Leo pergi ke Sepang Malaysia tidak hanya untuk memamerkan robot Semar karyanya, namun juga untuk membuktikan, anak muda Indonesia datang ke Malaysia tidak hanya datang sebagai TKI, tapi scientist yang kompeten dan dihargai ke-Indonesia-annya. Syammhfuz mengembangkan perusahaan dengan mitranya peternak sapi krena tak ingin hanya menggantungkan pengentasan kemiskinan masyarakat pada MDG’s. Nilai-nilai “tidak hanya mencemaskan dirinya sendiri” inilah yang dipelajari melalui agenda-agenda Peace Generation.

Berpijak dari berbagai argumentasi dan narasi di atas, maka upaya-upaya untuk melakukan revitalisasi nasionalisme harus selalu disemaikan. Upaya ini juga harus didorong dengan penguatan wacana dan artikulasi multikulturalisme. Multikulturalisme adalah modal dasar dalam membangun dan mempertahankan eksistensi kebangsaan dan memperkuat semangat kebersamaan dalam mengahdapi berbagai tantangan baik dari dalam maupun dari luar. Asa itu nampaknya cukup bisa diharapkan dari generasi muda sebagai penerus bangsa ketika kita menatap Peace generation. Mengutip pernyataan Rektor UGM yang menyatakan mahasiswa UGM diharapkan menjadi mahasiswa yang tidak lagi cemas dengan dirinya sendiri, tetapi cemas dengan apa yang terjadi di sekitarnya, inilah wujud nyata ketika mahasiswa telah sadar akan potensinya untuk membangun lingkungannya.

Inilah konsistensi dari sebuah integritas, kesadaran anak negeri untuk mengerti, bahwa tugas besar dimulai hari ini. Inilah modernisator-modernisator muda yang akan meyelesaikan gagasan-gagasan besar yang belum dirampungkan pendahulunya guna menjawab tantangan kebangsaan baru. Modernisator yang menjaga gelora nasionalisme, dan terus bertumbuh semangat internasionalisasi Indonesia. Mereka adalah generasi pertama abad-21 yang dinamis merangkul perubahan dan dinamika sosial yang tumbuh di masyarakat dengan kehangatan pluralisme yang moderat. Generasi damai ini percaya kebangsaan Indonesia, kebhinekaan, demokrasi, dan pluralisme harus mereka bangun dalam nasionalisme yang sehat. Telah begitu banyak diberitakan Mahasiswa yang membakar ban bekas dalam menyuarakan aspirasi serta keinginannya, namun anak-anak muda ini, mereka membakar semangat kebangsaanya untuk memperjuangkan idealisme dan cita-cita ke-Indonesia-an mereka, cita cita kerukunan dan harmoni Indonesia dalam keberagaman.

DAFTAR PUSTAKA

Colletta N. J. dan Kayam U. 1997. Kebudayaan dan Pembangunan. Jakarta: Obor.


Kymlicka W. 2003. Kewargaan Multikultural.
Jakarta: LP3S. File pdf diunduh melalui www.scribd.org


Sularto S. (ed.). 1999. Visi dan Agenda Reformasi.
Yogyakarta: Kanisius.

Raho B. 2004. Sosiologi-Sebuah Pengantar. Jakarta: Dian Ilmu

Peace Generation, 2008. Pelangi Damaidi Sudut Jogja. Yogyakarta:PSKP UGM

Banks, J. 1993. Multicultural Education: Historical Development, Dimension, and Practice. Review of Research in Education. File pdf diunduh melalui www.scribd.org

Cunningham, William G. dan Paula A. Cordeiro. 2003. Educational Leadership A Problem-Based Approach: Second Edition. United States of America: Tara Whorf. File pdf diunduh melalui www.scribd.org



http://www.lampungp ost.com/cetak/ berita.php? id=2010010701374 263

http://www.peacegeneration.wordpress.org/home

http://www.poetrylibrary.org.uk/queries/faps/#27

http://bina-damai.net/images/downloads/Profil_JPG.pdf.



[1]Cunningham, William G. dan Paula A. Cordeiro. 2003. Educational Leadership A Problem-Based Approach: Second Edition. United States of America: Tara Whorf. File pdf diunduh melalui www.scribd.org

[8] Mengutip pernyatan Riansyah dalam Riansyah, Menguhkan Koeksistensi, Menumbuhkan Proeksistensi, Analisis Media Bulan Januari 2007, Puspek Averroes Malang file pdf diunduh melalui www.scribd.org

Selasa, 20 Juli 2010

Manifesto

Kami adalah modernisator Indonesia

Kami adalah generasi pertama manusia Indonesia abad 21

Kami adalah anak-anak bangsa yang berjiwa muda, penuh kebanggaan, percaya diri, dan berprestasi

Kami bangga dengan kekayaan dan keluhuran warisan budaya Indonesia, dan yakin bahwa kejayaan Indonesia yang lebih besar masih menanti di masa depan

Semboyan kami adalah "pengabdian, keunggulan, inovasi, keterbukaan, konektifitas". Kami yakin nilai-nilai inilah yang akan memicu ledakan kreatifitas Indonesia

Generasi kami berorientasi pada peluang, bukan rasa cemas; dipacu oleh energi positif, bukan energi negatif; dengan wawasan yang terus menyongsong hari esok; dan dengan terus menonjolkan sikap moderat dan pluralisme sebagai kunci sukses

Kami berpandangan bahwa perubahan yang terpenting adalah modernisasi cara pandang, karena Indonesia abad ke-21 harus memiliki wawasan abad ke-21 guna menjawab berbagai tantangan baru yang belum terpikirkan oleh generasi pendahulu.

Karena itulah kami ingin terus membantu membuka pikiran bangsa

Kami ingin agar Indonesia bukan hanya menjalani reformasi, namun juga mengalami transformasi

Generasi kami menganggap kebangsaan Indonesia, kebhinekaan, demokrasi dan pluralisme sebagai darah daging kami yang alami

Generasi kami tidak takut dengan perubahan: kami justru merasa terpacu dengan perubahan. Kami selalu mencari ide dan inovasi baru, dan yakin bahwa perubahan yang berkesinabungan adalah kunci menuju vitalitas dan kesuksesan bangsa

Kami akan selalu menjaga gelora nasionalisme, dan akan terus mengobarkan internasionalisme Indonesia

Kami percaya bahwa kini ancaman bangsa yang paling nyata adalah korupsi, kebodohan, ketidak-pedulian, potensi konflik, marginalisasi, ekstrimisme, xenophobia dan ketidak-mampuan membaca tanda zaman

Dalam kurun waktu satu generasi, kami ingin di Indonesia ada 100.000 Phd, 100 pusat keunggulan di seluruh penjuru negeri, 25 universitas bertaraf dunia, dan tampilnya komunitas besar ilmu pengetahuan (knowledge society) yang cemerlang dan dinamis di Indonesia

Dalam satu generasi, kami ingin Indonesia mempunyai empat juta pengusaha, menjadi salah satu ekonomi unggul yang paling kompetitif di Asia, handal beradaptasi dan meraih keuntungan dari arus globalisasi, dan melesat jauh melampaui target internasional Millenium Development Goals dengan kemakmuran yang relatif merata dari Sabang sampai Merauke

Dalam jangka menengah dan panjang, kami ingin agar Indonesia masuk ke dalam 10 besar ekonomi dunia, menjadi ekonomi ramah lingkungan yang mapan, dan mencapai “nol kemiskinan” (zero poverty)

Kami senantiasa haus inspirasi, dan kami juga ingin menjadi inspirasi bagi orang lain

Generasi kami ingin menoreh prestasi sendiri; mencetak pahlawan masa kini, dan mempunyai capaian sejarah sendiri

Karena kebesaran sebuah bangsa tercermin dalam sastranya, seni arsitekturnya, dan desain-nya, kami ingin mendorong kebangkitan Indonesia di dunia seni dan industri kreatif

Dengan semangat 1945 yang tak pernah padam, dengan keyakinan pada demokrasi dan reformasi, dan didorong energi positif dan nasionalisme yang sehat, kami akan bahu-membahu dengan semua pihak yang berniat men-transformasikan Indonesia menjadi sebuah bangsa yang besar di abad ke 21.

Dan pekerjaan besar ini dimulai disini, sekarang

Manifesto

We are Indonesia's modernizers

We are the first generation of the 21st Century

We are young, proud, confident and high-achievers

We are proud of Indonesia's rich and unique heritage, and believe that the promise of Indonesia lies abundantly in her future

Our motto is "service, excellence, innovation, openness, connectivity",

We believe these values will unleash Indonesia's enormous creative potentials

We are the generation that is driven by opportunity, not fear,

by positive, not negative energy;

by a forward-looking mindset, and by embracing moderation and pluralism as the key to our success.

We believe the most important change to make is the change of mindset, because a 21st century Indonesia must develop a 21st century mindset to tackle new challenges unimagined by preceding generations

We therefore seek to open up minds

We want Indonesia not just to merely reform, but transform

We take our nationality, diversity, democracy and pluralism as a given.

We are not afraid of change : indeed we thrive on change, we always seek new ideas and innovation, and believe constant self-reinvention is the key to a nation's vitality and success;

We are proud of our nationalism, but we also strongly believe in our internationalism

We believe the real threats that face us today are corruption, ignorance, indifference, conflict, marginalization, extremism, xenophobia and an inability to read the sign of the times

Within the span of one generation, we want Indonesia to have 100,000 PhDs,

100 centers of excellence throughout the country,

and 25 world-class Universities, and become a vibrant knowledge society

Within one generation, we want Indonesia to have 4 million entrepreneurs,

become one of Asia's most competitive economy

, fully capable of adapting and capitalizing on globalization,

by far exceeding the international targets of the Millenium Development Goals

with an evenly spread prosperity from Sabang to Merauke

In the medium and long-term, we want Indonesia to be the world's top 10 largest economy; a viable green economy; and achieve zero poverty

We have a thirst to be inspired, and we seek to inspire others

We want our generation to have our own achievements, our own heroes, our own legacy

Because a nation's greatness is reflected in her literature, arts, architecture and design, we seek to promote an Indonesian renaissance in the arts and creative industry

With the enduring spirit of 1945, with a passionate belief in the promise of democracy and reformasi, and with positive energy and healthy nationalism, we will join those who seek to transform Indonesia into a great nation for the 21st Century.

And the work begins here, now ..

We act Locally?

“Kelak, akan tercatat dalam sejarah dunia. Sebuah bangsa besar yang terletak di antara Samudera Hindia dan Pasifik, serta benua Asia dan Australia. Mereka menjadi kuli di negeri sendiri, menjadi budak bagi bangsa lain.” Demikian kutipan dari Ir Soekarno, Presiden RI pertama kita.

Mungkin perkataan Bung Karno di atas dapat benar-benar terjadi dalam sepuluh-dua puluh tahun ke depan. Saat kita tidak lagi memiliki sesuatu — yang saya lebih suka menyebutnya dengan “Tekno-Nasionalis Euforia”.

Seharusnya Malu

Beberapa waktu lalu, seseorang bernama Aaron Taylor Kuffner a.k.a Zemi17, seakan telah membuat ‘tamparan’ keras bagi generasi muda Indonesia. Pasalnya, ia telah membuat karya yang disebut sebagai GamelaTron. Apa itu?

“GamelaTron adalah koleksi dari instrumen musik milik Indonesia yang bernama gamelan. Kami menambahkan kata Tron mengacu pada gamelan versi elektronik yang mereka mainkan. Gamelan ini dijalankan oleh ‘lengan-lengan bermesin’ yang berjumlah 117 buah, ” seperti dijelaskan Zemi17 dalam situsnya.

Tugas dari lengan-lengan tersebut, yakni sebagai martil yang bekerja bersama lewat jaringan yang dikontrol dari komputer. Sebagai otak inti dari masing-masing instrumen yang mereka mainkan, sebuah mikroprosesor yang bisa menginteprestasikan sinyal musik dibenamkan di dalamnya.

Dilansir Reuters, sejak pertama diluncurkan tahun lalu, berbagai kota telah mereka satroni untuk mempertunjukkan orkestra unik ini. Termasuk New York, Pennsylvania dan Connecticut. Bahkan, robot gamelan ini sudah punya basis penggemar sendiri.

Sejak 2004 sampai 2006, Zemi17 telah tinggal di Indonesia. Ia fokus pada riset mengenai gamelan klasik di Yogyakarta dan Bali. Riset studinya ini berfokus pada dua hal yang menjadi akar dari Gamelan: Sekaten dari Jawa Tengah dan Slonding dari Bali.

Lalu ke manakah pemuda-pemuda Indonesia lainnya saat Zemi17 berkarya membuat GamelaTron ? Relakah kita bila ada ‘orang asing’ realitanya justru lebih cinta akan khasanah budaya kita? Ironis.

Tangisan Ibu Pertiwi

Nasionalisme. Apalah artinya, jika seorang warga negara justru lebih mencintai budaya asing, sementara budaya asli yang merupakan akar dari budayanya sendiri mati tergerus. Siapa yang tidak mengenal arti kata 12 huruf yang berbunyi N-A-S-I-O-N-A-L-I-S-M-E. Tanyakan pada guru PPKN atau PMP sewaktu kita duduk di bangku SD. Saya rasa kita sudah ‘kenyang’ dengan arti kata ini.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hedonisme diartikan sebagai pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup (KBBI, edisi ketiga, 2001). Secara umum para hedonis tersebut hanya berpikir pada hasil dan bukan proses.

Kedua hal ini mungkin tidak ada kaitannya secara langsung. Andai kedua hal ini dikaitkan, Anda mungkin bisa menjawab sendiri jika ditanya, porsi mana yang lebih besar antara nasionalisme vs hedonisme ini bagi pemuda-pemudi Indonesia.

Mungkin saat ini, ibu pertiwi sedang menangis merasakan greget nasionalisme bangsa ini tergerus oleh mesin-mesin ‘asing’ yang telah mencabut akar-akar budaya kita sendiri. Seolah membuat generasi muda kita lupa akan keagungan nilai budaya Indonesia, seperti gamelan, misalnya.

Tengoklah sekeliling kita. Tanyakan pada mereka dan diri kita sendiri, apakah masih peduli akan kekayaan budaya bangsa ini? Jawab secara jujur, apakah kita mengetahui keindahan nada-nada pentatonis macam pelog dan slendro?

Bagi beberapa dari kita yang berada di Jawa bertahun-tahun, apakah kita bisa memainkan melodi ensembel musik dari bonang, saron, rebab dan siter? Slenthem, gender, gambang dan demung? Jangankan bermain, tahu bentuknya saja tidak.

Semakin ironis karena muda-mudi kita lebih pandai menghentakan jari-jarinya pada keypad BlackBerry atau iPhone, dibanding menghentakannya untuk belajar Gamelan. Memainkan serta belajar menggunakan aplikasi-aplikasi baru, kita akui memang jauh lebih menarik daripada belajar budaya daerah.
Sentuhan Teknologi

Sore itu seorang teman, seorang mahasiswa di Bandung, mengirimkan email. Ia mendiskusikan mengenai pemanfaatan teknologi bagi kemajuan bangsa. Ia pun berkata kepada saya soal pidato Emil Salim, mantan Menteri Lingkungan Hidup di era Presiden Soeharto.

“Nusantara kaya dengan lautan, hutan tropis dan sumber daya mineral. Ketiganya merupakan potensi yang jika diberdayakan dengan sentuhan sains dan teknologi yang tepat dapat menjadi sumber keunggulan Bangsa Indonesia.” kata Profesor Emil Salim dalam pidatonya yang berjudul ‘Technology for Sustainable Development: The Case of Indonesia’, di Auditorium Campus Centre UGM, Jumat (19/6/2009).

Dari pidato tersebut, Profesor Emil membuat kesimpulan, bahwa masyarakat Indonesia, khususnya kalangan terdidik, harus kreatif dalam mengembangkan dan menginternasionalkan potensi lokal yang sebetulnya telah melekat dalam tradisi bangsa.

Sebenarnya banyak jalan untuk membangun bangsa ini melalui aplikasi teknologi. Sebut saja JENI, sebuah program yang dimiliki SUN Microsystem Indonesia untuk membuat aplikasi berbasis open source. Lihatlah tim dari bangsa ini yang menjadi juara International Robo Games yang digelar 12-14 Juni 2009 di San Francisco, AS.

Belum lagi maraknya kantong-kantong komunitas nasionalis, yang kini banyak bertebaran di Facebook, Twitter, Plurk, dan beberapa situs jejaring lainnya layaknya IndonesiaUnite!. Di Facebook, misalnya, telah banyak grup-grup yang bertujuan menggalang nasionalisme. Demi menumbuhkan rasa bangga sebagai bangsa. Sebut saja: Forum Komunikasi Peserta CETAK REKOR: Memerah Putihkan FACEBOOK.

Hal-hal di atas, walaupun kecil namun memiliki tujuan yang sama, yakni: menumbuhkan semangat nasionalisme. Seperti yang telah dicita-citakan para pendahulu kita. Inilah semangat terpenting yang harus ada, ditengah kompleksitas permasalahan bangsa ini.

Merdeka

Tulisan ini tidak ditujukan kepada kita agar mengubah diri secara frontal dan memojokan hal-hal tertentu. Tapi minimal kita harus berkaca pada diri masing-masing. Apa kontribusi kita bagi bangsa yang telah merdeka selama 64 tahun ini?

Mungkin kita bukanlah ahli dan pakar di bidang teknologi, atau seseorang yang dikaruniai IQ tinggi untuk mencipta sesuatu yang berguna bagi bangsa ini. Namun saya yakin kita semua pasti memiliki talenta, walaupun kecil. Nah, gunakanlah. Apapun posisi dan bidang pekerjaan, kita tetap harus produktif. Produktif demi kemajuan bangsa ini.

Dalam kesempatan ini, marilah kita ciptakan sebuah semangat, kegilaan, kebersamaan, serta produktivitas tinggi berbasis teknologi. Demi kemajuan bangsa ini. Merdeka!