
· Secretary of ULob (UGM Loves Batik Community) from 2007-2009
I learned that there were two ways I could live my life: following my dreams or doing something else. Dreams aren't a matter of chance, but a matter of choice. When I dream, I believe I am rehearsing my future. Im Glad Im a big dreamer...
Saya bertumbuh di tengah keluarga yang hangat. Saya, dan kedua adik perempuan saya memang tidak hidup dalam materi berlebih, namun kami mensyukuri limpahan hal penting lain, yang buat kami lebih dari sekedar materi. Bapak adalah satu-satunya laki-laki yang kami kenal di rumah. Sedikit berbeda dengan teman-teman kami yang lain, kami “dipaksakan” untuk menjalani aktivitas dengan terencana. Pulang sekolah sekitar jam 11 siang, kami punya jam bermain sampai jam satu, selepas itu kami harus tidur siang, jam 3 kami memulai untuk melakukan aktivitas yang lain, mengaji dan les bahasa Inggris. Kadang kami iri dengan teman-teman sebaya kami,tapi melihat apa yang kami dapatkan sekarag, kesempatan dan harga manis yang kami peroleh sekarang, tidak ada yang kami syukuri selain bapak yang sangat berkorban untuk kami.
Kami berhasil menjalani masa sekolah, masa SMA dan masa SMP di sekolah favorit di kota ini. Saya dan adik tertua saya alhamdulilah berkesempatan mengenyam pendidikan di Universitas Negeri terbaik di kota ini. Dan itu semua karena kerja keras orangtua kami. Kadang kami berfikir orangtua kami terlalu kolot, tapi itu dulu. Ketika kami masih belum bisa mengejawantahkan dengan baik cara kami disayangi dengan sangat special oleh kedua orangtua kami. Bapak yang berkantor jauh di ujung kota sana selalu memiliki waktu untuk mengantar dan menjemput kami dari kegiatan les kami. Bapak selalu memiliki energy berlebih untuk kami.
Satu hal yang saya pelajari dari bapak adalah konsistensi dan keteladanan. Hal tersebut yang kemudian membentuk kami, untuk menjadi anak yang mengerti pentingnya merencanakan semua hal, dan menyenangkannya untuk menjadi anak manis yang berjalan dalam koridor relijiusitas yang moderat. Kami tahu, selelah apapun bapak dengan pekerjaannya, bapak tidak akan tidur sebelum kami selesai belajar. Kami selalu belajar dengan bapak dan ibu di samping kami, menunggui kami dengan sabar. Itu juga yang pada akhirnya membuat kami tahu diri. Bahwa nilai raport yang baik adalah hal yang selalu ditunggu bapak setiap enam bulan sekali. Kami selalu ingin bapak dan ibu tersenyum setiap kali wali kelas kami membagikan raport kepada mereka.
Bapak tidak pernah marah dengan meledak-ledak, bapak hanya mendiamkan kami. Dan buat kami kemarahan bapak yang seperti itu jauh lebih membuat kami tidak nyaman. Pernah bapak marah kepada kami bertiga karena kami memilih untuk menonton film daripada membantu tetangga yang sedang memiliki hajat. Saya ingat bapak membelikan saya komputer sebagai hadiah kelulusan SMP saya. Betapa malu kami dengan bapak pada waktu itu. Di tengah lingkungan rumah kami, bapak disegani karena jujur, tidak banyak bicara, tetapi tulus membantu. Bapak hanya akan absen meronda jika encoknya benar-benar tidak tertahan. Bapak tidak akan berfikir dua kali untuk mendonorkan darahnya buat siapa saja yang memungkinkan dibantu. Satu yang saya ingat, bapak baru saja pulang dari tugas di Bali waktu itu, dan bapak langsung bergegas berangkat ke rumah tetangga untuk memasangkan lampu untuk membantu penerangan tetangga yang membutuhkan.
Di rumah, kami memiliki beberapa kursi lipat, bapak sendiri yang membelinya. Kursi itu dipinjamkan untuk tetangga yang membutuhkan. Dan sepeser pun bapak tidak pernah meminta uang sewa. Katanya, motivasinya sangat sederhana: Biar dicatat sebagai amal, biar sama gusti diganti dengan dimudahkan jalan anak-anakku mendapat masa depan yang lebih baik.
Ibu adalah perempuan kuat dan berkarakter dalam pandangan saya. Sulit bagi saya membayangkan ibu dengan latar belakangnya pada waktu itu, mau menjadi istri PNS golongan bawah. Setelah beranjak dewasa dan tahu biaya les untuk kami tidak murah, saya baru mengerti bahwa ibu sangat cermat mengelola gaji bapak agar cukup untuk memenuhi semua kebutuhan kami. Ibu tidak seperti ibu muda lainnya yang up date terhadap gaya pakaian terbaru. Ibu lebih memilih kami berbahasa Inggris dengan lancar daripada sekedar berganti-ganti baju setiap arisan RT. Ibu sangat kreatif membuat mahar, dan untuk orang-orang sekampung, ibu membuatkannya dengan iklas, tidak meminta apapun.
Saya memang senang menulis sejak kecil. Berbagai lomba saya ikuti. Ketika Sekolah Dasar, bapak yang mengetikkan karangan yang saya buat. Semenjak SMP saya memang beberapa kali mendapatkan hadiah dari lomba menulis. Pada waktu saya SMP memang lomba menulis tidak sebanyak ketika saya duduk di SMA. Beranjak SMA saya mulai terbiasa membeli barang-barang yang saya inginkan dengan uang hadiah lomba. Lebih dari itu, saya mensyukuri banyaknya kesempatan yang datang kepada saya lewat kemenangan-kemenangan tersebut. Beberapa universitas meminang saya untuk menjadi mahasiswa, namun ketika itu Gadjah Mada masih menjadi harapan besar untuk saya.
Beranjak kuliah, tidak ada yang banyak berubah dari diri saya. Bapak tetap saja bapak yang selalu mengingatkan saya untuk tidak bepergian diluar aktivitas kuliah selain hari jumat sabtu dan minggu. Bapak masih saja terus meng update jadwal ujian saya, dan terus saja memantau IPK saya. Itu pula yang membuat teman-teman saya heran, katanya mereka terbiasa membicarakan kuliah hanya pada saat meminta uang semesteran.
Adik pertama saya adalah anak bapak yang memiliki “sense of art” yang paling tinggi. Dia sangat berbakat menggambar, bermain musik, dan menari. Adik saya menari untuk sendratari Ramayana. Dia sangunis melankolis di keluarga kami. Tenang, namun tetap fokus pada tujuan.
Melihat apa yang dilakukan adik bungsu saya sekarang ini, saya seperti dejavu dengan apa yang saya kerjakan di masa-masa SMA saya. Ririn seperti memiliki kekuatan yang tidak pernah habis untuk mengerjakan apa yang dia yakini penting untuk dia kerjakan. Ririn sangat menyukai dunia jurnalistik. Ketertarikan saya dengan ririn memang dalam bidang yang tidak jauh berbeda dengan saya. Mata Ririn tidak lepas dari channel TV 1 dan Metro TV. Ririn mengawali mimpinya dari usia yang masih sangat-sangat muda. Dan Tuhan menghadiahinya sederet kejuaraan lomba menulis atas kerja keras dan konsistensinya. Saya luar biasa bangga dipercaya oleh Tuhan untuk memiliki Ririn sebagai adik saya. Tidak masalah buat saya banyak orang yang memanggil saya, “Mbaknya Ririn”. Bahkan ketika saya berkumpul dengan teman-teman saya, ada gurat kekecewaan yang saya baca dari mereka ketika mereka bertanya, “Ririn mana? Kok ga diajak?”
Ririn adalah “Miss Good Planner”. Sangat disiplin,perfeksionis, keras, dan prinsipil. Saya banyak belajar dari ririn untuk bekerja dengan totalitas. Di tengah aktivitas menggunungnya sebagai anggota FKPO Dinas Pendidikan Propinsi DIY, Kontributor untuk rubrik Muda Kompas, News Anchor di salah satu TV lokal di DIY, Ririn masih mendapatkan peringkat Big Five, bukan dikelasnya tetapi di Sekolahnya.
Status facebooknya hari ini adalah, being alone makes me grow , so what am I afraid of ?Menurut analisa saya, tanpa bermaksud melebihkan, tidak sulit untuk ririn menjalani masa-masa cinta monyet sebagaimana teman-temannya kebanyakan. She’s quite loveable. Smart Idea, Humble, Good Looking...Tapi apa jawabnya? Oalah mbak, gak usah pasang status in a relationship juga aku ini udah eksis plus heboh kok di facebook, hehe. I’d love your joke sistaaa….
Dengan keluarga yang hangat, adik-adik yang manis yang sangat membantu saya untuk membahagiakan orangtua kami, apalagi alasan saya untuk tidak bersyukur, Thank’s God for a whole Happy life I’ve got….Alhamdulilah….
Sebenarnya saya paling malas mereview bagian relasi saya, tetapi dengan semakin bayak orang tanya, PW wisudamu mana sih ris? Saya seperti dibawa memorabilia, meneropong masa-masa saya belum disodori pertanyaan itu.
Masa-masa SMA adalah ketika saya mengkonsumsi banyak imajinasi “a fairy tale come true”. Saya sangat tersanjung memiliki pasangan yang berada dalam kadar “ideal” dalam perspektif banyak orang. Mahasiswa UGM dengan jurusan grade favorit, sopan, pendek kata oke banget dibawa ke kondangan kalau ketemu temen-temennya bapak atau ibu. Dia semangat besar saya masuk Gadjah Mada. Hampir tiga tahun kami, lebih tepatnya saya berusaha untuk patuh pada komimen yang kami buat. Sampai akhirnya komitmen tersebut berakhir dengan kata klise:bosan. Saya mengartikan istilah bosan tersebut dengansaya membosankan. Dan alasan itu pula yang kemudian membuat saya dengan mudah mengartikan komitmen yang dia buat dengan orang lain diluar sepengetahuan saya. Saya kehilangan kendali atas diri saya sampai beberapa bulan. Lebih tepatnya saya berada dalam titik degradasi kepercayaan diri.
Saya perlu masa rehealing yang cukup lama sampai pada akhirnya saya bertemu orang lain. Kali ini memang lebih sanguinis. Jauh dari ekspektasi orang mengenai tipikal favorit saya. Bukan anak UGM, tidak dengan TOEFL score bagus, dan tidak dengan topik bahasan yang sama dengan saya. Saya tidak peduli dengan pendapat orang, toh saya nyaman dengan kondisi tersebut. Saya sangat berharap dapt keluar dari dogma “relasi mebosankan”. Waktu itu saya memang melakukan banyak hal yang sebelumnya jauh dari kebiasaan saya yang sangat “on schedule”. He’s not much at look, not a hero out of the book, but I do love him. Simpel sekali jawaban saya saat itu. Tapi lagi-lagi, komitmen tersebut berakhir tidak dengan kemauan saya. Sekeras apapun saya bertahan, saya tidak dapat memberi alasan yang lebih baik untuk menyangkal kalimat “Kamu terlalu baik untuk aku”. Saya sakit bukan karena merasa pengorbanan long distance yang pada akhirnya menjadi sia-sia, tapi karena waktu itu saya benar-benar kehilangan. Dan lagi-lagi saya harus terima bahwa ada komitmen lain selain komitmen dengan saya. Fortunately, saat-saat labil tersebut saya alami pada masa KKN. Thank’s God saya ditemani oleh teman-teman yang benar-benar menguatkan.
Lalu jika sekarang saya tidak sedang berkomitmen dengan siapapun, apakah karena saya masih berada dalam zona ketakutan saya? Saya rasa bukan. Toh saya masih mampu melakukan banyak hal. Prestasi saya juga tidak pernah turun. Saya memang berhati-hati tetapi tidak sedikitpun menutup diri. Saya memang berteman dengan siapapun, tapi memang saya belum bertemu orang yang tepat mau diapakan lagi? Saya bukan pemilih, tetapi kali ini setelah berulangkali gagal, saya benar-benar meminta kontribusi Tuhan dalam porsi yang lebih banyak untuk memilihkan yang terbaik untuk saya. Dan saya lebih mengikuti kata hati saya daripada logika-logika “Prince Charming” ideal saya. Passion, kali ini saya yakini adalah sinyal yang akan diberikan tuhan untuk menunjukkan orang yang tepat yang dipilihkanNya untuk saya. Karenanya, saya baru akan memulai ketika saya benar-benar yakin.
Menginap di kos Ira mengenalkan saya pada buku Why Men Marry Bitches. Saya belajar bahwa dengan hanya merajuk dan menampilkan sisi roman picisan, perempuan hanya akan mendapatkan Ordinary man. Perempuan kuat, pintar, dan berkarakter adalah tipikal perempuan seksi bagi “The Excellence Ones”. Lihat saja perempuan-perempuan dibalik B.J. Habibie, SBY, Julian Aldrin Pasha. Mereka terpilih karena diyakini mampu mendampingi “The Excellence Ones” tersebut “For Better or Worst”. Mereka yang memiliki cita-cita dan pemikiran besar pasti sadar bahwa jalan hidup yang mereka pilih tidak semudah orang kebanyakan. Dan mereka tahu bahwa mereka butuh perempuan kuat yang akan menguatkan mereka. Sejarah pun mengajari kita, Marcos terpuruk oleh Imelda yang Fashionista Holic. Louis XIV yang dibenamkan oleh Madam Antoneite. Itu pula yang saya pelajari, Growing day older Growing day better. Maximize and encourage all part of me. I Believe that if I only tackle what I know, I’ll never grow. Only me can choose my destination. Totally, I want to keep in people mind, as a mature and outrageous girl. I am beautiful no matter what He Say, World Can’t Bring me Down..
Notes ini sekaligus untuk menjawab banyak pertanyaan yang akhir akhir ini mengganggu saya. Risti Pendamping Wisuda kamu siapa? Jawaban simple saya tidak akan berubah : Selempang Kuning CumLaude dan Bapak saya. Itu sudah lebih dari sekedar cukup untuk membuat saya berbahagia. Buat saya sekarang ini, menyelesaikan kewajiban sebagai anak terlebih dahulu adalah penting, saya percaya ketika saya sudah menjadi anak yang manis dan membahagiakan orangtua saya, mereka pasti tak sungkan memintakan saya jodoh yang menggembirakan saya. Saya yakin dengan terus menjadi anak baik, tuhan akan memberi saya hadiah yang indah, pasangan yang pintar dan berkarakter (tetep aja milih hehe).. Yeah, just do for the best (and also prepare for the worst). Only God knows how tomorrow will be like for my life….
Dalam skala yang masif, terbangnya sumber daya manusia brilian itu disebut sebagai brain drain. Atau hilangnya kumpulan otak cerdas yang ramai-ramai hijrah ke negeri lain yang lebih menjanjikan : ke negeri seberang tempat dimana land of hope masih bisa diejawantahkan.
Indonesia bukan satu-satunya negeri yang mengalami fenomena brain drain. Dua negeri lain juga mengalami hal ini, dengan skala yang lebih fantastis : India dan China.
Yang paling mencengangkan adalah India. Sejak tahun 50-an hingga hari ini, jutaan manusia cerdas dari India hijrah ke Amerika. Namun dampaknya juga mengejutkan : profesor kelahiran India selalu menjadi figur dominan pada hampir semua perguruan tinggi top di Amerika. Demikian juga, nama-nama berbau India selalu mendominasi pos penting pada hampir semua perusahaan teknologi papan atas di Amerika.
Karena itu, kalaulah ada kebijakan semua anak keturunan India harus keluar dari Amerika, maka hampir pasti ekonomi negeri adidaya itu seketika limbung. Sebab brain drain dari India itu telah berperan amat penting bagi kemajuan tekenologi dan ekonomi negeri besar itu.
Dalam skala yang jauh lebih kecil, Indonesia juga punya banyak kasus brain drain. Kita misalnya, melihat bagaimana anak kelahiran Medan menjadi profesor top di Amerika. Atau ada juga anak negeri ini yang menjadi dewa dalam salah satu satu perguruan top di Jepang. Banyak juga anak-anak cemerlang negeri ini yang berkiprah di Eropa, dan menduduki pos penting di sejumlah organisasi.
Mengapa terjadi brain drain? Jawabannya sederhana : infrastruktur di dalam negeri yang belum tertata dengan elok. Banyak dari manusia brilian – yang rata-rata berprofesi sebagai saintis/peneliti itu, menemukan fasilitas riset disini yang belum optimal mendukung kiprah mereka.
Alasan lain tentu saja : penghasilan. Bekerja sebagai peneliti di negeri seberang menjanjikan penghasilan yang sangat memadai. Yang tak kalah penting : mereka menemukan ruang untuk terus mengembangkan potensi keilmuannya.
Lalu apa solusinya? Sederhana juga : pihak pemerintah harus segera membenahi infrstruktur riset disini; dan juga secara agresif memberikan reward yang atraktif bagi para peneliti yang telah teruji dalam kancah dunia. Pemerintah China – lantaran kemajuan ekonominya – telah secara agresif melakukan kebijakan ini.
Mereka menjanjikan dana riset yang hampir tak terbatas, gaji yang besar dan fasilitas riset kelas dunia, guna menarik para peneliti cemerlang mereka yang malang melintang di jagat Amerika dan Eropa. Hasilnya menarik : terjadilah fenomena reverse brain drain. Maksudnya, ribuan insan brilian China yang telah berhasil di negeri seberang itu ramai-ramai pulang kampung untuk membangun tanah airnya. Reverse brain drain adalah fenomena indah yang layak kita impikan.
Solusi lain adalah ini : mengharapkan agar ada diantara periset itu yang memiliki jiwa advonturir (semangat petualangan) untuk membangun lembaga riset unggul di dalam negeri. Artinya, periset itu tetap berjibaku membangun kegiatan riset kelas dunia di negerinya sendiri, meski terus disergap beragam keterbatasan.
Sangkot Marzuki, profesor biokimia hebat kita itu, adalah salah satu contohnya. Meski telah menduduki posisi prestisius di University of Melbourne, ia memilih pulang dan membangun Lembaga Biomolekuler Eijkman, yang berlokasi di Salemba, Jakarta. Di tengah segala keterbatasan, ia tidak menyerah. Hasilnya, lembaga itu kini telah diakui dunia. Terry Mart, anak negeri ini yang jadi dosen Fisika UI juga melakukan hal serupa. Ia tetap memilih berkiprah di UI sambil terus menulis riset kelas dunia di jurnal-jurnal internasional.
Kita mungkin membutuhkan sosok periset dengan spirit semacam itu guna menghindari fenomena human capital flight. Bagaimanapun kejadian brain drain dan human capital flight acapkali membuat negeri asal mereka menjadi kian kehilangan.
Tanah airku tidak kulupakan
kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
tidak kan hilang dari kalbu
Tanahku yang kucintai
engkau kuhargai
(Ibu Sud, Tanah Airku)
Sungguh bangga melihat orang-orang Indonesia yang berkarier cemerlang di mancanegara, terutama di negara-negara maju. Baik sebagai profesional di berbagai perusahaan multinasional, peneliti atau pengajar di universitas ternama, maupun sebagai seniman kelas dunia. Di daratan Eropa, sekadar contoh, kita mengirim Siddik Badruddin sebagai Direktur Country Risk Citibank Jerman. Ananda Sukarlan kelahiran Jakarta tahun 1968 yang kini menetap di Spanyol adalah pianis yang sangat dihormati dan menjadi langganan gedung konser paling bergengsi di Eropa seperti Concertgebouw Amsterdam, Philharmonie Berlin, Auditorio Nacional di Madrid, serta Rachmaninoff Hall di Moskow dan Queen Hall di Edinburg.
Di benua Amerika, Indonesia menitipkan Nelson Tanu di Lehigh University, Pennsylvania, AS. Lelaki kelahiran Medan 20 Oktober 1977 ini adalah pakar teknologi nano yang merupakan kunci perkembangan sains dan rekayasa masa depan. Temuan-temuannya memungkinkan banyak hal menjadi lebih murah. Sinar laser yang biasanya butuh listrik 100 watt, misalnya, di tangan Nelson hanya butuh 1,5 watt. Wajarlah, sejak Mei 2009, ketika usianya belum genap 32 tahun, ia diangkat sebagai profesor. Lebih hebat lagi, sebelumnya, saat berusia 25 tahun, Nelson telah memecahkan rekor sebagai profesor termuda sepanjang sejarah Pantai Timur di Amerika. Rekor sebelumnya dipegang Linus Pauling, penerima Nobel Kimia 1954 yang menjadi asisten profesor pada usia 26 tahun. Orang sejenius Nelson pastilah bakal disambut hangat jika ingin menjadi warga negara AS. Namun, hal itu tak pernah terlintas di pikirannya. Ia justru punya ambisi suatu saat balik ke Indonesia dan membangun universitas di Indonesia menjadi universitas papan atas di Asia.
Itu baru sedikit contoh. Anda pasti lebih takjub lagi saat membuka halaman demi halaman Sajuta SWA setelah ini: Indonesia diam-diam mampu mengekspor banyak orang berbobot ke mancanegara. Bukan sekadar tenaga kerja kasar seperti yang selama ini menjadi sasaran empuk media massa.
Selama satu-dua dasawarsa terakhir, pergerakan orang-orang terbaik dari satu negara ke negara lain memang semakin kencang. Ini tak lepas dari pesatnya perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, serta kian terbukanya negara-negara di dunia terhadap bangsa lain. Cina yang dulu sangat tertutup, contoh ekstremnya, belakangan sangat welcome terhadap orang-orang pintar sejauh mereka mampu memberi nilai tambah atau mendongkrak produktivitas perekonomian negeri itu.
Fenomena hijrahnya orang-orang terbaik untuk berkarier di negara lain yang mampu memberikan apresiasi dan gaji yang lebih baik, beberapa waktu lalu, sempat menjadi polemik ramai. Umumnya bernada miring. Muncullah, kemudian, istilah brain drain untuk menunjukkan betapa orang-orang pilihan itu tersedot keluar karena suatu negara tak mampu menahan tarikan kuat dari luar. Bahkan, ada yang menuding mereka sebagai orang yang egois, cari enak sendiri, tidak nasionalis, dan cap lain yang tak sedap didengar.
Semua tudingan negatif itu tampaknya kurang berdasar. Setidaknya, dari liputan SWA kali ini, semua orang hebat dari Indonesia yang kini berkarya di luar negeri dengan tegas mengatakan, suatu saat mereka ingin balik ke Tanah Air untuk mengabdikan ilmu dan pengalaman yang bertahun-tahun mereka timba di mancanegara, demi kemajuan Indonesia. Mereka tak setuju jika proses hidup yang mereka jalani sekarang disebut brain drain. Mereka lebih sreg disebut brain circulation. Artinya, suatu saat brain itu pasti balik lagi dengan kualitas yang jauh lebih bagus karena sudah teruji di kancah persaingan global.
Sebetulnya, tak usahlah menunggu sampai mereka kembali, sekarang pun mereka telah mengabdi kepada Tanah Air. Dengan kian tersebarnya orang terbaik kita di berbagai negara, secara tak langsung mereka menjadi duta atau brand atau apa pun namanya yang mampu mengerek citra positif Indonesia di mata negara dan bangsa lain. Ini investasi yang tak ternilai harganya bagi anak-cucu kita.
Soal nasionalisme? Boleh jadi, mereka tak kalah nasionalis dibanding orang-orang yang selama ini berkutat di dalam negeri. Cobalah search di Google. Di sana akan Anda temukan, lagu yang paling mereka gemari ketika kumpul-kumpul adalah Tanah Airku karya Ibu Sud. Reaksi mereka ketika menyanyikan atau mendengarkan lagu ini macam-macam. Ada yang tertunduk haru, merinding, bahkan tak sedikit yang menitikkan air mata. Ya… Biarpun saya pergi jauh, tidak kan hilang dari kalbu.
Saya percaya suatu hari nanti, fenomena reverse brain drain juga akan hinggap di negeri ini. Itulah momen dimana ribuan anak cemerlang yang telah berkiprah di negeri seberang akan berbondong-bondong pulang, dan membangun ibu pertiwi.
Tanggal 26 Januari adalah Australia Day, yang dirayakan untuk memperingati hari berlabuhnya rombongan pertama para tahanan asal Inggris yang dibuang di Sydney tahun 1788. Rombongan ini dipimpin oleh Kapten Arthur Phillip, yang kelak akan menjadi gubernur New South Wales yang pertama.
Australia Day ini dirayakan sama meriahnya dengan 17 Agustus di Indonesia, atau 4 Juli di Amerika. Tradisi perayaan Australia Day di seluruh Australia dimulai sejak tahun 1935. Mulai tahun 1994, hari ini (atau hari sebelum atau sesudahnya jika kebetulan tanggal ini jatuh di akhir pekan) dijadikan hari libur nasional.
Salah satu lagu yang kerap dinyanyikan di Australia Day adalah I still call Australia home karya Peter Allen. Lagu ini juga pernah digunakan iklan Qantas.
I've been to cities that never close down
From New York to Rio and old London town
But no matter how far
Or how wide I roam
I still call Australia home.
I'm always travelin'
And I love bein' free
So I keep leavin' the sun and the sea
But my heart lies waiting over the foam
I still call Australia home.
All the sons and daughters spinning 'round the world
Away from their families and friends
Ah, but as the world gets older and colder
It's good to know where your journey ends.
And someday we'll all be together once more
When all the ships come back to the shore
Then I realize something I've always known
I still call Australia home.